Kridha Turonggo Puspo
Sejarah dan Latar Belakang
Sejarah eksistensi kesenian Jathilan di Padukuhan Kembang memiliki akar tradisi yang kuat dan telah tumbuh di tengah masyarakat sejak era 1960-an. Pada masa awal tersebut, kegiatan kesenian ini berjalan sebagai bentuk ekspresi budaya komunal yang diwariskan secara turun-temurun, meskipun belum terhimpun dalam sebuah manajemen organisasi yang formal. Momentum penting dalam perjalanan kelompok ini terjadi pada tahun 1990, di mana para pegiat seni setempat sepakat untuk melakukan formalisasi wadah kreativitas mereka. Pada tahun itulah nama Kridha Turangga Puspa resmi dikukuhkan sebagai identitas kelompok, menandai transformasi dari kegiatan budaya yang bersifat organik menjadi sebuah organisasi kesenian yang lebih terstruktur guna menjawab tantangan pelestarian budaya di masa depan.
Filosofi Nama
Nama Kridha Turangga Puspa bukan sekadar identitas, melainkan memuat filosofi mendalam yang diambil dari bahasa Jawa Kuno (Sanskerta) yang mencerminkan semangat dan jati diri kelompok. Kata “Kridha” bermakna perbuatan, tindakan, atau olah gerak yang dinamis; “Turangga” berarti kuda, yang merujuk pada properti utama tarian Jathilan sekaligus simbol kekuatan dan kegagahan; sedangkan “Puspa” berarti bunga, yang melambangkan keindahan, keharuman nama, serta merepresentasikan asal wilayah mereka, yakni Padukuhan Kembang. Secara harfiah dan maknawi, Kridha Turangga Puspa dapat diartikan sebagai sebuah gerak seni keprajuritan berkuda yang indah dan harum, yang senantiasa berkreasi untuk mengharumkan nama wilayah melalui keluhuran budayanya.
Kiprah dan Kegiatan
Dalam kiprahnya melestarikan seni tradisi, Kridha Turangga Puspa telah menorehkan rekam jejak pementasan yang impresif dan menjangkau audiens yang luas. Kelompok ini tidak hanya aktif mengisi acara-acara kebudayaan di tingkat desa atau kecamatan, tetapi juga telah dipercaya untuk tampil di berbagai panggung prestisius di luar daerah. Salah satu pencapaian yang menjadi kebanggaan tersendiri adalah kesempatan untuk menggelar pentas di kawasan Candi Prambanan, sebuah panggung budaya bertaraf internasional. Pengalaman pentas di berbagai tempat ini menjadi bukti nyata dedikasi dan kualitas artistik Kridha Turangga Puspa dalam menjaga eksistensi kesenian Jathilan agar tetap relevan dan dicintai oleh masyarakat luas.